Panasnya terik matahari tak menyurutkan semangat cewek itu memandangi
laki-laki yang sedang bermain basket di halaman sekolahnya. Laki-laki yang
selalu dia pandangi saat jam istirahat tiba. Laki-laki yang tinggi, cool,
pintar bermain basket dan gitar ini adalah kakak kelasnya. Dia bernama Bagas
Rahman Dwi Saputra. Ya, cewek itu suka dengannya sejak pandangan pertama.
Dia ingin sekali mengenalnya lebih
dekat. Namun, itu semua mungkin hanya mimpi. Bagas menyapa cewek itu saja tak
pernah. Dia juga tak tau tentang perasaan cewek itu padanya. Bagas megenalnya
saat MOS. Tak tau dia masih mengingat cewek itu atau tidak.
>>skiiip<<
Jam pulang pun tiba. Chelsea melangkahkan
kakinya menuju ke pariran untuk mengambil mobilnya dan menjemput adiknya
Marsha. Namun saat Chelsea sedang berjalan tiba-tiba, brakkkkk!
“auwhhh... Brakkk,” triak
chelsea.
“Chelsea!! Maaf” kata cowok itu.
“maaf aku nggak sengaja melempar bola basket ini, dan kena kamu. Maaf Chelsea,
ayo bangun” lanjut cowok itu, yang ternyata Bagas.
Saat bermain basket Bagas tak
sengaja melempar bola dan mengenai kepala Chelsea. Sehingga membuat Chelsea
pingsan dan dibawa Bagas ke Ruang UKS. Beberapa menit kemudian, Chelsea sadar
dan dia sangat kaget. Cowok yang dia kagumi selama ini ada di depan matanya.
“eh, Kak Bagas. Aku ada di mana
Kak? apa yang udah terjadi sama Aku? Aku sekarang harus menjemput Marsha ke
sekolahnya” kata Chelsea tak henti-hentiya. Dan berusaha bangun.
“bentar Chelsea. Kamu baru
bangun, jangan banyak gerak dulu. Mendingan sekarang kamu telpon Adik kamu dan
bilang keadaan kamu. Biar dia pulangnya aku jemput. Dia suruh nunggu aku aja,”
kata Bagas.
“enggak Kak Bagas. Nggak usah.
Itu ngrepotin Kakak. Aku udah enakkan kok Kak. Aku bisa jemput Marsha sendiri,”
jawab Chelsea dengan perasaan campur aduk. Antara panik karena dia terburu-buru
harus menjemput Marsha. Senang dan deg-degan karena dia sekarang sedang bersama
orang yang ia kagumi.
“maaf ya Chelsea, gara-gara aku
kamu jadi panik kayak gini. Ya udah aku anterin kamu ke parkiran ya?” tawar
Bagas.
Chelsea tidak mungkin menolak
tawaran Bagas itu. Lalu Chelsea pun dengan cepat mengiyakan tawaran Bagas.
“iya Kak. Aku mau,” kata Chelsea
dengan cepat.
>>skiiiipp<<
Sesampainya di parkiran. Chelsea
pun dengan cepat memasuk mobilnya. Karena dia tak mau Adiknya Marsha menunggu
terlalu lama.
“ya udah Kak. Aku mau jemput
Marsha dulu. Takut dia nunggunya lama. Makasih udah nganterin aku ke parkiran,”
kata chelsea.
“waduh. Kamu bawel juga ya?
Haha. Iya deh hati-hati ya,” sahut Bagas. “maaf tadi aku gak sengaja nglempar
bola ke kamu” lanjut Bagas.
“haha, iya deh Kak. Besuk lagi
hati-hati ya? Haha. Daa Kak,” jawab Chelsea.
“daa,” sahut Bagas sambil
melambaikan tangannya.
>>skiiiipp<<
“Marsha, maafin aku ya. Kamu
jadi nunggu lama, ada kejadian yang waw banget tadi di sekolah. Udah cepetan
masuk. Ntar aku ceritain di jalan,” kata Chelsea ke Marsha.
“iya Kak, gakpapa,” sahut
Marsha.
Di mobil, Chelsea pun
menyeritakan semua yang telah terjadi pada Marsha.
“wahahah... ternyata Kak Bagas
perhatian juga ya Kak? Oh ya Kak, tadi waktu pulang sekolah aku jalan ke halte,
aku hampir ke tabrak motornya si Rafli. Nyebelin banget deh Kak,” kata Marsha.
“trus kamu gimana? Kamu gakpapa
kan? Ada yang luka?” jawab Chelsea panik.
“lah, kakak lola ya? Aku kan
bilangnya hampir kak. H.A.M.P.I.R, hampir,” kata Marsha sambil mengeja. “aku
gakpapa kok Kak, kakak kagak usah khawatir,” lanjut Marsha.
“oh iya ya,” jawab Chelsea
singkat.
Sesampainya di rumah mereka pun
beristiahat. Saat Chelsea sedang berbaring di tempat tidurnya tiba-tiba
–kriiiiing- handphone Chelsea berbunyi. Dan ternyata itu adalah telpon dari
sahabatnya Cindai.
“Chel, gua mau curhat sama lo.
Lo mau dengerin guekan?” kata Cindai.
“iya Dai. Ada apa? Kamu mau
curhat apa?” jawab Chelsea.
“Chel, gue putus sama Gilang.
Katanya dia mau konsentrasi belajar. Apa mungkin selama ini gua ganggu dia?”
kata Cindai, sambil menangis.
“Cindai, kamu gak boleh ngomong
kayak gitu. Mungkin Gilang emang mau lebih konsentrasi belajar. Maklum sebentar
lagikan, dia ada Olimpiade IPA. Dia harus konsentrasi dulu. Baru nantinya
balikkan sama kamu. kamu juga harus ngertiin dia Dai,” kata Chelsea,
menenangkan sahabatnya itu.
“Chelsea, tapi gue sayang banget
sama dia. Gua gak mau putus sama dia,” kata Cindai.
“aduh Cindai, udah dong. Kamu
jangan nangis lagi. Aku tau itu memang berat, tapi kalo kamu emang bener-bener
sayang sama Gilang, kamu harus bisa setia. Kamu dukung, apa yang dilakuin
Gilang. Kamu harus bisa tunjukin ke Gilang, kalo kamu itu emang bisa ngertiin
dia. Kamu selalu ada buat dukung dia. Sabar ya Cindai. Aku gak mau kamu sedih
terus,” lanjut Chelsea.
“ya udah, makasih ya Chel, lo
emang sahabat terbaik gua. Lo kapan jadian sama Kak Bagsa?” sahut Cindai.
“eh, apaan sih Cindai. Jangan
kayak gitu dong. Hehe.... do’ain aja ya? Biar cepet, haha,” jawab Chelsea,
dengan malu-malu.
“hahaha, yaudah gua do’ain lo
kok. Ya udah gitu aja ya Chel, makasih sarannya,” kata Cindai menutup
telponnya.
“iya Cindai, jangan nangis lagi
ya? Daaa,” kata Chelsea.
“daaa,” sahut Cindai.
>>skiiiiipp<<
Pagi-pagi sekali Chelsea sudah
berjalan di koridor sekolah. Sekolah masih terlihat sepi. Pantas saja, karena
ini masih 30 menit sebelum bel masuk berbunyi. Saat dia berjalan di depan
halaman sekolah. Dia melihat Bagas sedang bermain basket. Dia pun duduk, dn
melihat pangerannya itu bermain basket. Tiba-tiba Bagas menghampiri Chelsea,
dan duduk di sampingnya.
“hai,” sapa Bagas.
“eh, Kak Bagas. Hai juga Kak,”
sahut Chelsea.
“chelsea, aku boleh tanya
sesuatu gak?” kata Bagas.
“iya, Kak. Ada apa? Bilang aja,”
jawab Chelsea.
“kenapa sih kamu selalu ngliatin
aku main basket?” tanya Bagas.
“emm... ee. Gini Kak, aa.ku. aku
suka permainan Basket kakak,” jawab Chelsea.
“emm... Cuma sekedar suka
permainan aku ya? Gak lebih?” tanya Bagas.
“emm... iya Kak,” jawab Chelsea.
“yah, sebenernya aku suka sama
kamu Chel. Sejak aku jadi pembimbing MOS kamu waktu itu. Kamu baik banget sama
temen. Aku suka sama kamu Chel. Maaf, kalo ini terkesan mendadak. Aku udah
memendam perasaan ini lama Chel. Tapi, maaf aku terlalu pengecut untuk
ngungkapin perasaan aku. Dan aku baru berani sekarang,” kata Bagas panjang
lebar.
“haaa? Kakak suka sama aku? Gak
salah kak? Tapikan aku gak sempurna dan secantik mantan kakak. Kak Misel itukan
cantik, pinter lagi. Dan sedangkan aku, gak ada apa-apanya kan kak?” jawab
Chelsea.
“trus kenapa Chel? Aku gak
mentingin itu. Aku sekarang bicara tentang perasaan, bukan tampang. Kamu itu
juga cantik, pinter, dan kamu juga baik,” kata Bagas.
“iya kak. Sebenernya aku juga
suka sama kakak, sejak MOS. Jadi aku mau nerima kakak, dan kita jadian,” jawab
Chelsea membalas perasaan Bagas.
“kamu beneran kan Chel? Gak
bohong?” kata Bagas.
“yah, kakak. Baru jadian aja,
udah gak percaya gitu, sama Chelsea. emm,” kata Chelsea.
“yah, Chelsea ngambekan ya?
Maaf... aku gak bermaksud kayak gitu. Aku seneng banget kamu nrima aku Chel.
Makasih ya?” jawab Bagas.
“hehe,
iya Kak,” kata Chelsea.
“ya udah, aku anterin kamu ke
kelas ya?” ajak Bagas.
“iya Kak,” jawab Chelsea,
menerima ajakan Bagas.
Di sekolahnya, diam-diam Marsha
juga menyukai Rafli yang kemarin hampir menabraknya. Tidak ada yang tau tentang
perasaan Marsha kecuali dirinya sendiri.
>>skiiipp<<
Saat pulang sekolah, Marsha
ingin menyebrang jalan menuju halte. Karena Chelsea tidak bisa menjemputnya,
akhirnya dia pun pulang dengan menggunakan angkutan umum. Tapi, lagi-lagi
Marsha hampir tertabrak Rafli. Sebenernya Marsha merasa senang, dan juga merasa
sebel dengan Rafli.
“ihh, Rafli kamu kenapa mau
nabrak aku terus sih?” kata Marsha.
“maaf Marsha, aku gak bermaksud
kayak gitu. Ya udah sebagai permintaan maaf aku, aku anterin kamu pulang ya?
Tapi kita ke taman dulu?” ajak Rafli.
“ha? Rafli ngajakin aku? Gak
salah? Tapi, gak usah deh Raf. Marsha pulang naik angkutan umum aja,” jawab
Marsha.
“enggak Sha. Udah deh naik aja.
Gak papa kok. Nanti kita ke taman dulu,” bujuk Rafli.
“iya deh Raf,” jawab Marsaha
menerima ajakan Rafli.
Sesampainya di taman, Rafli pun
menyuruh Marsha duduk di kursi. Dan membeli dua buah es krim coklat. Setelah
Rafli memberikan es krim untuk Marsha, Rafli ikut duduk di sebelah Marsha. Dan
Rafli pun memulai pembicaraan.
“Sha, lihat deh awan di atas.
Mirip kayak kelinci yah?” kata Rafli.
“eh, iya... hehe. Lucu ya Raf,”
sahut Marsha.
“iya Marsha, lucu kayak kamu,”
jawab Rafli. Dan sentak jawaban itu mengangetkan Marsha.
“apaan sih Raf, gombal,” jawab
Marsha.
“Sha, maaf ya. Waktu itu aku gak
sengaja nemuin buku diary kamu di bawah meja. Trus sebelum aku taruh di tas
kamu, gak sengaja aku baca tulisan =aku sayang Rafli= trus, aku mau tanya. Apa
itu bener?” tanya Rafli.
“emm... iya. Aku suka sayang
sama Rafli. Marsha gak tau sayangnya sebatas temen apa lebih,” jawab Marsha.
“marsha kenapa jadi keliatan
sedih? Gakpapa Marsha, jujur itu baik. Aku juga sayang kok sama Marsha,” jawab
Rafli.
“emm...,” jawab Marsha singkat.
“Marsha, kamu jangan sedih ya?
Kamu mau kan jadi pacar aku?” tanya Rafli.
“emm... iya Raf, aku mau,” jawab
Marsha.
“makasih Marsha. Aku akan jagain
kamu,” kata Rafli.
“iya, Raf. Yaudah kita pulang
yuk,” ajak Marsha.
“iya, ayo,” jawab Rafli.
>>skiiipp<<
Setahun kemudian, sehari sebelum
Anniversarry Bagas-Chelsea, dan Rafli-Marsha. Saat itu, Bagas telah menginjak
kelas 9 SMP. Chelsea kelas 8 SMP, dan Rafli dan Marsha kelas 7 SMP.
“Chelsea?” sapa Bagas.
“eh, Kak Bagas. Iya Kak? Kakak
mau makan juga? Kakak duduk aja, aku pesenin,” kata Chelsea.
“hehe, iya Cantik makasih...,”
jawab Bagas.
“ini kak pesenannya,” kata
Chelsea, sambil menyodorkan makanan ke Bagas.
“makasih Chel. Oh iya, besuk kan
Anniversarry kita. Kita jalan yuk,” ajak Bagas.
“emm... kakak inget ya? Kirain
gak inget. Kan biasanya cowok gak inget Anniversarrynya,” jawab Chelsea.
“ya inget dong Chel. Itukan hari
bahagia kita,” kata Bagas.
“hehe, iya kak. Aku mau, tapi
aku gak janji ya Kak?” jawab Chelsea
“loh? Kenapa gitu Chel?” tanya
Bagas.
“enggak kok. Tapi aku gak janji
ya?” jawab Bagas.
“hehe, iya Chel,” kata Bagas.
>>skiiippp<<
Saat jam pulang sekolah tiba,
Chelsea dan Marsha berencana untuk pergi ke mall. Mereka ingin membeli baju,
untuk merayakan Anniversarry mereka berdua. Setelah tepat pukul empat sore,
mereka berdua langsung pergi ke mall. Setelah sampai di mall, mereka berdua
memilih bajunya masing-masing. Saat Chelsea membuka tasnya, ternyata dompetnya
tertinggal di dalam mobil. Berhubung parkiran berada di sebrang jalan. Chelsea
pun harus menyebrang jalan.
Saat di tengah jalan, tiba-tiba
sebuah mobil menabrak Chelsea. Chelsea pun terjatuh dan mengeluarkan banyak
sekali darah. Beberapa saat kemudian Marsha keluar dari mall. Dia langsung
berlari ke kerumunan orang di pinggir jalan. Setelah mengetahui bahwa Chelsea
terkapar di jalan, dia langsung menangis. Kemudian Chelsea, berbicara pada
Marsha.
“Marsha, tolong sampaikan surat
Kakak untuk Bagas di atas meja Kakak. Kakak sayang sama Kamu. Kakak harus
pergi. Maafin Kakak,” kata Chelsea terbata-bata.
‘kakaaaaaaaakkkk,” triak Marsha
sambil menangis.
Di rumah Chelsea, Mama, Papa
Chelsea, dan Marsha masih menangisi kepergian Chelsea. Disamping Marsha ada
Rafli yang mendampinginya, dan berusaha menghibur. Sedangkan Bagas berada di
Kamar Chelsea. Dia membaca surat dari Chelsea untuknya.
Dear, Bagas.
Kak, aku tau kamu sekarang pasti
lagi sedih. Hehe, jangan sedih Kak. Aku gak mau kamu sedih. Kak, aku minta maaf
ya kalau selama ini, aku banyak salah sama kakak. Aku sering cuek, cemburu, dan
marah tiba-tiba ke Kakak.
“iya Mbem, aku maafin kamu,”
kata Bagas. kemudian Bagas melanjutkan membaca surat dari Chelsea.
Sekarang aku harus pergi Kak.
Maaf aku gak bisa ngerayain hari jadi kita. Karena aku udah mempunyai firasat,
kalau hidup aku gak lama lagi kak. Kakak, harus bisa MOVE ON dari aku. Masih
banyak cewek lain yang lebih sempurna dari aku, hehe.
Bagas pun menitikan air mata.
“gimana aku bisa move on dari kamu Mbem?” kata Bagas.
Kak, aku titip Mama, Papa aku ya? Aku juga titip Marsha, jagain dia.
Marahin dia kalau dia nakal. Jewer Gilang kalo, dia nyakitin Marsha, hehe. Aku
juga titip Cindai ya kak. Aku tau sekarang dia lagi di Singapura, aku titip
salam buat dia. Kalo dia udah pulang nanti.
Kakak, aku sayang sama kamu. Yang memisahkan kita hanya ajal Kak. Walaupun
aku yang harus pergi duluan. HAPPY ANNIVERSARRY Kak, buat besuk. LOVE YOU :*
Your girlfriend,
Chelsea.
“aku akan nyusuk kamu Chel, aku akan nemenin kamu,” kata Bagas, sambil
mengambil sebua cutter yang ada di meja Chelsea.
Tiba-tiba Marsha dan Rafli datang ke kamar Chelsea. Melihat apa yang akan
dilakukan Bagas Marsha langsung memeluk Bagas.
“kak, kakak ga boleh ngelakuin ini. Kakak disuruh kakak Chelsea ngejagain
Mama, Papa, dan aku kan? Kakak mau ngecewain Kak Chelsea?” kata Marsha sambil
menangis.
Lalu Rafli menyambar cutter yang dipegang Bagas, sehingga terlempar jauh.
Keesokan harinya, saat pemakaman Chelsea, semua sudah meninggalkan pemakaman,
kecuali Bagas. Bagas meletakkan bunga di atas kuburan Chelsea yang masih basah.
“happy anniversarry Sayang. Semoga kamu tenang disana. Aku sayang kamu
Mbem,” kata Bagas, lalu meninggalkan pemakaman.
1 komentar:
Unch unch
Posting Komentar